Thursday, January 21, 2016

Memberdayakan Mangrove Jadi Pusat Wisata

Hutan mangrove di Kuala Langsa, Aceh
Dikembangkan pasca tsunami Maumere, Flores, tahun 1992, kini, bakau itu berubah jadi kawasan wisata yang diminati wisatawan domestik dan mancanegara

Di sebelah kanan jalan lintas utara Pulau Flores dari arah Maumere-Ende, tepatnya di Pantai Rerorodja, KM 29, tertera tulisan, ”Laboratorium Mangrove untuk Kehidupan yang Lebih Nyaman”.

Di situ ada jalan menuju kawasan hutan mangrove atau bakau seluas 80 hektar yang dikembangkan pasca tsunami Maumere, Flores, tahun 1992. Kini, bakau itu berubah jadi kawasan wisata yang diminati wisatawan domestik dan mancanegara.

Sebelum memasuki kawasan hutan bakau, pengunjung terlebih dahulu melewati rumah Viktor Imanuel Ray alias Akong (63), pengelola hutan itu. Di situ terpampang sebuah papan bertuliskan, ”Pengunjung Hutan Bakau Membayar Rp 5.000 per orang”.

Seorang anggota keluarga Viktor berada di dekat papan itu untuk menerima pembayaran ”tiket masuk”. ”Uang ini untuk perawatan dan pengelolaan bakau,” jelas Akong.

Setelah transaksi, pengunjung pun diizinkan masuk kawasan hutan bakau, menikmati suasana alamnya melalui sebuah jalan yang dibangun dari bambu. Jalan yang menyerupai jembatan itu memiliki lebar 1,5 meter dan tinggi 3 meter menyelinap masuk di tengah kepadatan hutan bakau hingga sejauh 350 meter.

Ada sekitar 500 jenis bakau yang ditanam. Bakau-bakau itu masing-masing memiliki fungsi sendiri. ”Bakau kepiting, misalnya, menjadi bahan tepung terigu, menjadi makanan kepiting, bahkan di beberapa tempat masyarakat mengonsumsi buah bakau jenis ini, daunnya sebagai obat menghentikan darah untuk luka baru. Bakau akar tongkat, daunnya digunakan sebagai bahan baku pencetakan uang,” papar Akong.

Terinspirasi dari tsunami

Akong mengembangkan hutan bakau itu sejak 1993. Dia belajar dari fakta saat tsunami. Ketika itu, sejumlah lokasi yang ditumbuhi bakau tak mengalami kerusakan parah karena terlindungi.

Fakta tersebut memotivasi Akong menanam dan mengembangkan bakau secara besar-besaran di kawasan itu yang kini mencapai 80 hektar. Sebagian besar pohon bakau itu sudah berusia belasan hingga 22 tahun dan terus dilakukan regenerasi.

Kini, hutan itu bukan hanya sebagai benteng abrasi, melainkan juga menjadi tempat hidup sekaligus pengembangbiakan ikan dan burung-burung laut.

Di ujung dari jalan bambu itu, Akong sengaja membangun lagi sebuah kolam seluas 1.500 meter persegi. Dalam kolam tersebut dilakukan tempat pembiakan ikan.

Tak jauh dari kolam, dibangun pula dua pondok sebagai tempat beristirahat. Wisatawan bisa duduk santai dan menikmati makanan. Bahkan, dibangun pula sebuah menara dari bambu setinggi 40 meter untuk memantau dan memotret seluruh kawasan hutan bakau.

Embusan angin laut menyelinap masuk melalui sela-sela hutan bakau, membuat tubuh terasa seperti berada di dalam ruangan pendingin. Kicauan aneka jenis suara burung di tengah hutan bakau itu mendorong pengunjung merekam suara itu untuk dijadikan nada dering telepon genggam.

Tampak pula beberapa sarang burung bergantung di dahan (ranting) bakau. Sore dan pagi hari, burung-burung berkicau, bersahutan memecah kesunyian alam sekitar. Tampak pula belasan ekor kera ekor panjang bergelantungan di dahan bakau.

Mahasiswa dan dosen dari sejumlah perguruan tinggi di NTT dan di luar NTT sering melakukan studi banding bakau di situ. Selama 2015, sebanyak 500 mahasiswa dan 25 dosen dari beberapa perguruan tinggi melakukan penelitian.

Akong menuturkan, setiap hari 10-200 orang datang ke lokasi itu. Pengunjung terbanyak pada hari Sabtu, Minggu, atau hari libur. Ratusan anak sekolah datang dari Maumere (29 km) atau dari Ende (80 km) ke lokasi wisata itu.

”Anak sekolah saya wajibkan mereka menanam bakau di dalam kawasan yang sudah disiapkan,” ujar Akong.

Dia menyediakan anakan bakau dan mengajarkan cara menanam. Bakau tidak hanya ditanam di tempat berlumpur, tetapi juga ditanami di pasir kering.

Romy Imanuel Ray, putra Akong, berencana membangun penginapan dan restoran persis di bibir Pantai Rerorodja. Pantai tersebut berpasir hitam dengan panjang sekitar 3 km dan air laut yang jernih.

Raimundus Notan (23), mahasiswa Universitas Nusa Cendana Kupang yang meneliti di kawasan itu, mengatakan, Akong memiliki pengetahuan tentang bakau yang luas.

Meski hanya kelas II SD, ia paham semua jenis, sifat, dan keunggulan masing-masing bakau. Namun, dia menyarankan disiapkan fasilitas umum seperti kamar kecil bagi pengunjung.

(Kornelis Kewa Ama/Harian Kompas)
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments
Item Reviewed: Memberdayakan Mangrove Jadi Pusat Wisata Rating: 5 Reviewed By: http://awalinfo.blogspot.com/