Monday, July 22, 2013

Mengenang Masa Lampau Sulawesi Selatan

Gambar kota Maros tahun 1700-an


Expo Kearsipan berlangsung selama beberapa hari pada bulan Juli lalu. Tanggal 17 Juli, saya mendatangi “Pasar Segar” – tempat expo tersebut diselenggarakan.

Sepi. Acara seperti ini mungkin kurang diminati, kecuali oleh penyuka sejarah. Ataukah promosinya kurang membahana? Entahlah.

Ajang ini diselenggarakan oleh Badan Arsip Nasional (mohon maaf jika saya salah menuliskan nama instansinya) dan Perpustakaan Daerah Sulawesi Selatan (sekali lagi mohon maaf, saya tidak tahu apakah Perpustakaan Daerah dan Badan Arsip itu ada dalam satu lingkup instansi yang sama?).

kartografi VOC: Benteng Somba Opu dari Makassar
Menarik. Bagi saya, apa yang dipajang di sini membuat saya seolah mengunjungi masa lampau melalui arsip yang dipamerkan. Sebagian besar arsip ini ditulis dalam aksara daerah yang sekarang lazim disebut dengan aksara Lontarak[i].



Banyak hal menarik terdapat di sini. Di antaranya:

Dokumen Pengembalian Jenazah Syeh Yusuf dari Capetown (Afrika Selatan) ke Makassar

Syeh Yusuf Al-Makasari Al-Bantani, meninggalkan Makassar menuju Mekkah untuk belajar ilmu agama Islam. Sepulangnya dari tanah suci dengan mengantongi sejumlah ijazah, ia tidak langsung pulang ke Makassar. Syeh Yusuf singgah dan menetap di Banten. Di sana ia berjuang melawan Sultan Ageng Tirtayasa melawan Belanda. Namun setelah beberapa tahun ia kemudian tertangkap lalu diasingkan ke Srilangka (1684). Pada tahun 1693 ia dibawa lagi ke Cape Town (Afrika Selatan) dan ditempatkan di Zandvliet, sebuah daerah pertanian dekat muara sungai Eerste.

Enam tahun Syeh Yusuf di Cape Town, ia wafat pada tahun 1699 dalam usia 73 tahun. Ia dimakamkan di Faure, tidak jauh dari tempat tinggalnya. Guna mengenang Sang Guru, bangunan bekas tempat tinggalnya di Afrika Selatan dijadikan bangunan peringatan yang diberi nama ‘Karamat Syaikh Yusuf’.

Mendengar kabar wafatnya syeh Yusuf, kerabatnya di Gowa terutama raja Gowa – Sultan Abdul Jalil pada tahun 1705, berkirim surat ke pemerintah VOC (Belanda) agar mengembalikan jazad Syeh Yusuf ke Makassar. Akan tetapi pemerintah VOC yang berkuasa ketika itu tidak mengabulkan permintaan tersebut dengan alasan tidak memiliki cukup keuangan untuk pembiayaan pemulangannya. Tetapi sesungguhnya di balik alasan tersebut tersirat rasa takut pihak pemerintah Belanda akan bangkitnya semangat perlawanan dari masyarakat kerajaan Gowa terhadap Belanda.

Namun demikian pihak kerajaan Gowa tidak habis akal. Seluruh keluarga dan kerabat kerajaan Gowa bersama rakyatnya mengumpulkan dana untuk membiayai pemulangan jenazah syeh Yusuf, termasuk istri Arung Palakka – I Mangkawani Daeng Talele turut memberikan sumbangannya.

Berkat dana tersebut maka pemerintah VOC tidak punya alasan lagi untuk tidak mengembalikan jazad/kerangka syeh Yusuf ke Makassar. Suatu hari di bulan April 1705 jenazahnya tiba di Makassar, lalu keesokan harinya langsung dimakamkan di Lakiung, Gowa.

Akte Penjualan Budak


Akte ini mencatat penjualan pengambilan budak-budak yang dilakukan oleh orang setempat bersama pemerintah VOC di daerah wilayah Bantaeng. Budak-budak dikumpulkan lalu dinaikkan ke atas kapal. Pada tanggal 18 Agustus 1758, budak-budak tersebut tiba di Batavia. Dari sana kemudian kapalnya menuju Singapura dan tiba tanggal 25 April 1759. Di Singapura kemudian mereka diperjualbelikan dan dibawa ke Afrika Selatan.

Surat Budak ke Kampung Halaman


Uppase adalah seorang budak Bugis yang berasal dari Bulo-Bulo, Sinjai. Ia berkirim surat dari Afrika Selatan ke sanak keluarganya di kampung halamannya. Di dalam suratnya ia bercerita tentang penderitaan yang ia alami. Penderitaan tersebut diakibatkan oleh orang sekampungnya sendiri. Surat ini tidak pernah sampai ke tujuannya karena disita oleh pihak pemerintah Belanda.

Kutika


Salah satu naskah Bugis-Makassar yang dipergunakan sebagai pedoman untuk menentukan hari baik dalam melakukan pekerjaan atau suatu usaha. Sistem penanggalan yang digunakan berpatokan pada penanggalan Arab. Naskah ini menunjukkan kedekatan orang Bugis-Makassar dengan kebudayaan Arab/Islam. Beberapa naskah Kutika juga dilengkapi dengan ilustrasi gambar binatang dan tumbuhan.

Naga Siqoiq


Salah satu naskah Bugis-Makassar yang berilustrasikan dua ekor ular naga yang saling melilit. Naskah ini dijadikan masyarakat (kaum laki-laki) sebagai azimat yang digunakan untuk memikat kaum perempuan. Naskan ini juga digunakan oleh para pedagang untuk memikat calon pembelinya. Selain naskah ini bergambar ular naga juga terdapat sepasang binatang lipan (balipeng), kumbang (kacumarang), dan ular. Ular naga dalam naskah ini menunjukkan pengaruh kebudayaan Cina Tiongkok dalam kebudayaan Bugis-Makassar.

Mula Tau


Naskah lontarak berbahasa Bugis yang ditulis di atas kertas minyak ini milik And Mineng Opu Datenri Peppeng dari desa Senge kecamatan Belopa, kabupaten Luwu abad ke-20. Isi naskah: setelah diadakan musyawarah di Bottilangi yang dihadiri oleh keluarga besar Patotoe baik yang ada di Bottilangi maupun yang ada di Perettiwi.  Maka diturunkanlah Batara Guru ke bumi menjadi cikal bakal manusia penguasa bumi. Batara Guru diturunkan bersama dengan pengiringnya yang terdiri atas inang pengasuh, pembantu, pelayan, oro kelling, dan peralatan lainnya; kampak, genderang, dan alat-alat pencipta gunung, hutan, sungai, dan lain sebagainya. Beberapa perempuan pembantunya dijadikan pendamping utama (istri) yang melahirkan  beberapa orang anak yang kelak dapat menjadi pembantu, pensaehat, dan penghulu di dalam melaksanakan segala sesuatunya di dalam kerajaannya. Sedang istri sederajatnya adalah sepupu sekalinya (anak Guru Riselleng dari Toddatojja) yang bernama We Nyiliktimo, permaisuri inilah yang melahirkan Batara Lattu (ayah Sawerigading).

Meong Paloe


Naskah berbahasa Bugis dan Arab ini terdiri dari aksara Lontarak dan aksara Arab, ditulis di atas kertas cap air pohon kelapa dan gajah, milik dari Safar, disalin oleh La Dabe tahun 1957. Isi naskah: perjalanan Sangiangseri dengan Meong Paloe dari satu kampung ke kampung Laniangseri untuk mencari manusia yang berbudi pekerti mulia. Sangiangseri dan Meong Paloe pergi ke Boting Langi untuk menemui Patotoe, Datu Sangiangseri dan rombongan kembali ke bumi dan menetap di Barru.

Silsilah raja-raja Soppeng. Ditulis di atas daun lontar, diletakkan di
alat pemutar. Membacanya dengan cara memutar "rol lontar" di bilah-bilah kayu itu
Do’a Khatawul Qur’an


Naskah yang ditulis di atas kertas pabrik ini milik I Masse Batu Lappa kabupaten Barru abad ke-20 ini berisi: do’a yang dimulai dengan shalawat kemudian surah al-Fatihah, al-Ikhlas, al-Falaq, an-Nas. Selain beberapa potong ayat, juga do’a pahala bacaan kepada orangtua, orang muslim, sahabat-sahabat dan para wali. Sesudah dzikir disebut Muhammad, Jibril, Mikail, Israil, dan nabi Khaidir untuk mencarikan rezeki.


Lontarak Sakkerupa Do’a-Do’a


Naskah yang ditulis dalam bahasa Bugis dan Arab milik La Lanni ini ditulis di atas kertas cap air gajah dan tulisan Cina, berasal dari abad ke-18. Sayangnya naskah ini tak lengkap. Berisi: ilmu tasawuf, tarekat Kasabandiah (Naqsabandiah), obat-obatan (jampi) dan baca-baca untuk keberanian, dan do’a-do’a.

Cenningrara


Naskah berbahasa Bugis ini ditulis di atas kertas cap Air Britania pada abad ke-18. Milik dari Anthon Andi Pangerang di Palopo. Isi naskah: “pesan” lewat angin, pemanis ketika mandi dan bersanggul, tata cara agar suami tidak tertarik kepada wanita lain. Beberapa bacaan untuk wanita sebelum berhubungan dengan suami, penyembuhan sihir.

Pitika


Isi naskah yang ditulis dalam bahasa Makassar dan Arab ini tak lengkap, berisi segala macam azimat. Milik dari Daeng Paja, di Takalar. Berasal dari abad ke-18.

Tata Cara Mendirikan Rumah


Naskah yang ditulis di atas kertas cap Air Gajah dan pohon kelapa ini berasal dari abad ke-18. Ditulis dalam bahasa Makassar dan Arab. Berisi nama kayu sesuai pertumbuhannya.

Bunga Rampai Keagamaan


Naskah yang ditulis di atas kertas papirus ini milik seorang raja di Sulawesi Tengah pada abad ke-17. Berisi bacaan dalam shalat, tarekat Nur Muhammad, tauhid, dan keadaan dalam kubur.

Maulid Nabi Muhammad SAW


Naskah yang berasal dari abad ke-17 ini milik seseorang (saya tak bisa membaca dengan jelas pemiliknya, dari foto yang diambil), berbahasa Arab dan Melayu. Berisi tentang nabi Muhammad SAW.

Beberapa naskah lain yang dipajang berupa surat-surat. Seperti :

“Daftar banjaknja perahoe jang berlajar keloear Selebes Selatan”.
“Perahoe-perahoe yang di beslag” (1948)
Surat dari seorang perempuan yang telah menerima uang dari tuan Petor di Selayar (tahun 1910, ditulis dalam aksara Lontarak)
Surat permohonan pembebasan seorang laki-laki dari Sulawesi yang dijadikan budak.
Daftar nama warga keturunan Tionghoa yang masuk Akademi Militer (1910 – 1941)
Proses verbal pidana seorang laki-laki keturunan Tionghoa di Sinjai (1938)


☼☼☼

Naskah kuno
Surat-surat lawas


Saya menyayangkan, tak semua yang dipamerkan di expo ini memiliki keterangan yang lengkap. Beberapa foto terpajang tanpa keterangan apa-apa, pun naskah kuno. Namun demikian, expo seperti ini tetaplah merupakan media menarik untuk mengunjungi masa lampau.

Semua keterangan mengenai naskah di atas, saya kutip dari keterangan-keterangan yang dipajang di  Expo Kearsipan. Setuju atau tidak dengan konten beberapa naskah yang mengandung nuansa mistis adalah hal lain. Tak ada maksud saya selain untuk mengabarkan khazanah budaya Bugis-Makassar yang saya saksikan di ajang ini. Karena tak dapat dipungkiri, saya adalah bagian dari masyarakat dan budaya Bugis yang mengalir dalam darah ayah saya. “Bugis” menjadi sangat kuat dalam darah anak-anak saya karena ayah mereka orang Bugis tulen.

Dan saya pun bagian dari masyarakat dan budaya Makassar, karena saya lahir, besar, dan tinggal di tanah Makassar dan mencintai Makassar seperti kampung halaman sendiri. Saya pernah merantau. Tak lama, hanya dua tahun lebih. Tetapi ingatan saya selalu kembali ke Makassar. Selalu kangen dengan aroma dan tanah Makassar.

Semoga bermanfaat, 
salam buat sobat-sobat plh Indonesia

  • Blogger Comments
  • Facebook Comments
Item Reviewed: Mengenang Masa Lampau Sulawesi Selatan Rating: 5 Reviewed By: Awaluddin Ahmad