Sunday, March 24, 2013

Observasi Orangutan, Peneliti Temukan Aktivitas Illegal Logging


Taman Nasional Kutai dengan keanekaragaman hayati di dalamnya selalu menarik minat ilmuwan dan peneliti dalam negeri maupun mancanegara menyelisik habitat satwa langka, termasuk orangutan. Rangkaian Journalism Field Trip to Kutai National Park, peserta dipahamkan mengenai proses orangutan mencari makan hingga bertahan hidup dari ancaman alam dan manusia.
 
SELEPAS menyelesaikan perjalanan panjang dan melelahkan menyusuri hutan belantara Prevab Taman Nasional Kutai (TNK) pada malam hari, sejumlah wartawan perwakilan media cetak, online, dan televisi bergegas menuju pondok atau Camp Prevab TNK untuk beristirahat. Keesokan paginya, Minggu (17/3) lalu merupakan hari terakhir agenda jurnalistik ini. Sambil menyantap sarapan nasi goreng, peserta berkumpul di aula camp untuk mengikuti presentasi peneliti lokal, Purwo Kuncoro dari Kutai Orangutan Project.
 
Pria berkacamata ini sengaja didatangkan atas kerja sama Balai TNK Kementerian Kehutanan dengan sebuah universitas ternama di Eropa untuk menjelaskan bagaimana model penelitian menganalisis kehidupan habitat Orangutan Kalimantan berspesis Morio (Pongo pygmaeus morio), satwa asli yang hidup di TNK. “Ini penting buat wartawan untuk referensi mengetahui keberadaan orangutan khususnya di kawasan hutan konservasi Prevab TNK ini,” tegas Hernowo Suprianto, kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Sangatta.
 
Selanjutnya, Purwo Kuncoro memaparkan hasil penelitian selama 3 tahun terakhir ini. Menurut dia, sejak mengunjungi hutan Prevab TNK dimulai sekitar 2010 lalu hingga kini, sedikitnya menemukan 40 individu orangutan. Dia pun berhasil mengamati perilaku 26 individu orangutan. “Yang saya ingat, sekitar akhir tahun lalu saat memasuki hutan di areal Prevab hingga Mentoko TNK bersama dua orang teman sesama peneliti, tak sengaja menemukan aktivitas pembalakan liar (illegal logging) yang cukup luas hingga puluhan hektare.
 
Potensi ancaman itu otomatis dapat mengganggu kelangsungan populasi satwa yang berada di TNK, terutama orangutan yang keberadaannya langka di dunia,” beber Purwo. Lewat penelitian di hutan belantara Prevab hingga ke Mentoko TNK, sambung dia, sudah menemui 40 orangutan di areal seluas 500 hektare di hutan sekunder, di mana 26 di antaranya diikuti dengan cara observasi pergerakan dari sarang ke sarang.
 
Musibah kebakaran besar di hutan di TNK pada tahun 1997-1998 silam berdampak signifikan bagi eksistensi habitat orangutan di Kaltim. "Jelas, kebakaran hutan TNK sangat mengancam kelangsungan kehidupan orangutan, di mana luasan yang terbakar hampir 90 persen di habitat tempat tinggal orangutan yang ada di TNK," ulasnya. Habitat terbesar di dunia adalah Orangutan Kalimantan berjenis Morio, lokasi penelitian yang dilakukan di Mentoko, di hulu Sungai Sangatta.
 
Untuk diketahui, lokasi menuju Mentoko dari Prevab TNK berjarak sekitar 4-5 kilometer. “Kami memilih orangutan Morio karena orangutan asli Kaltim, habitatnya paling ekstrem karena masih berada di hutan primer yang tidak pernah dijamah manusia sebagai tempat penyangga hidup," tambahnya. Hutan primer yang dimaksud dia adalah sebagai tempat utama mencari makanan dan reproduksi orangutan.
 
Jika potensi hutan primer terjamah oleh tangan jahil manusia, praktis posisi orangutan kian terancam karena lokasi ini sangat dibutuhkan untuk habitat orangutan. Purwo menambahkan hutan primer merupakan lokasi strategis yang terdiri dari pohon yang disukai orangutan untuk mencari makan, bermain, bergerak, dan bersarang. Umumnya, orangutan beraktivitas mencari makan pada waktu pagi sampai sekitar pukul 09.00 dan sore hari mulai pukul 15.00 hingga menjelang malam, di mana orangutan akan membuat sarang untuk tidur.
 
Dalam riset itu, Purwo memperkirakan usia orangutan tertua di wilayah hutan TNK antara 50-60 tahun. "Semua orangutan yang kami temui di areal Prevab dan Mentoko dalam keadaan sehat dan tidak ada tanda malnutrisi (asupan gizi yang buruk). Orangutan yang kami ikuti memiliki jalur travel dan jalur tradisional, juga orangutan itu tidak bisa tinggal bersama-sama antarindividu satu dengan lainnya," bebernya.
 
TANAM BIBIT POHON
 
Sebelum meninggalkan lokasi camp, semua peserta mendapatkan jatah satu bibit pohon untuk ditanam di areal Camp Prevab TNK dari lima puluh bibit pohon yang disediakan panitia. Untuk diketahui, bibit pohon ini meliputi meranti dan kapur berumur sekitar enam bulan. “Ini bagian mencintai TNK dengan cara menghijaukan TNK lewat penanaman bibit pohon sebanyak lima puluh buah,” kata Agus Kurniawan, ketua panitia dari PT Esa Communications (Escomm) selaku penyelenggara.
 
Agus menyebut, kegiatan ini dimaksudkan untuk memberikan pemahaman ke media betapa pentingnya pohon yang memiliki sejuta manfaat. “Saya mengajak rekan-rekan media tidak boleh menganggap kecil peran bibit pohon. Masyarakat yang hidup di bumi tidak dapat dimungkiri bahwa akan tergantung pada hutan. Begitu banyak manfaat hutan dalam menyokong kehidupan manusia dan banyak pula cara kita untuk mempertahankan kelestarian hutan. Contohnya, ya jelas penanaman bibit pohon ini,” urainya.
 
Selepas menanam pohon, panitia dan peserta menuju ke dermaga kapal motor meninggalkan lokasi Camp Prevab TNK. Kembali ke Dusun Kabojaya, Desa Swargabara, Kecamatan Sangatta Utara, bus sudah menunggu untuk pulang ke Kantor Balai TNK di Jalan Awang Long Tromol Pos I Bontang. Di sela-sela penutupan kegiatan, Erli Sukrismanto, kepala Balai TNK mengajak seluruh masyarakat termasuk awak media untuk membantu strategi konservasi TNK, yang diimpit ancaman perambah hutan dan pembalakan liar.
 
“Mari mencintai hutan, selamatkan hutan, setidaknya tidak hanya menjadi semboyan lisan. Kalau bukan kita, siapa lagi yang mau menyelamatkan hutan. Kalau bukan sekarang, kapan lagi,” ucap Erli. Event Journalism Field Trip to TNK ini, kata dia tak hanya berhenti sampai di sini. Erli mengungkapkan agenda ini akan menjadi kegiatan tahunan. Balai TNK bakal terus mendukung media massa guna kampanye penyelamatan TNK.
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments
Item Reviewed: Observasi Orangutan, Peneliti Temukan Aktivitas Illegal Logging Rating: 5 Reviewed By: Awaluddin Ahmad