Wednesday, August 14, 2013

Menikmati Indahnya Alam Indonesia di Puncak Gunung Penanjakan

Hal pertama yang akan terjadi ketika anda turun dari jeep adalah anda akan diserbu! Diserbu oleh segerombolan warga lokal yang menawarkan jas hujan dan ponco yang tebal dan berat (dan bau juga kayaknya...haha). mereka mengatakan bahwa di atas sana akan lebih dingin. Wih, baju saya ini saja sudah bikin susah bergerak pak! Masak masih mau ditambahkan ponco lagi? Yang bener saja! Jujur, saya sich nggak tertarik dengan ponco tersebut karena merasa pakaian yang saya kenakan sudah cukup mumpuni untuk melawan dingin. Dingin di tempat parkir jeep ini pun masih tergolong biasa untuk saya. Entah pakaian saya yang terlalu tebal atau memang udaranya tidak dingin kali yach? Namun, sejumlah bapak dan ibu tampaknya menyewa ponco tersebut untuk menghalau dingin. Untuk yang pakaiannya kurang hangat, boleh banget menyewa ponco-ponco tersebut. Saya sich nggak yakin dengan pengguna sebelumnya yang menyewa ponco tersebut. Apakah ponco tersebut dicuci dahulu? Saya rasa ngga. Hahaha...
Jalan naik menuju menara pandang mudah dicapai. Kalau anda nggak yakin, ikut saja segerombolan orang yang menuju ke atas. Kanan dan kiri jalan menuju ke atas cukup terang benderang karena dipenuhi oleh aneka toko souvenir dan pakaian hangat. Walaupun belum memulai kunjungan di menara pandang untuk melihat sunrise, toko-toko ini cukup laris diserbu pembeli. Mungkin beli pakaian hangat kali yach? Jalan naiknya itu mendaki terus dan sekitar 500 meter jauhnya. Saya melihat ada sejumlah sepeda motor besar dan bebek di tempat ini. Hmm...ternyata bisa yach menaiki puncak ini dengan motor? Bisa jadi alternatif nich kapan-kapan! 
Akhirnya, tibalah juga di Puncak Penanjakan. Bangunan dengan bentuk joglo berdiri megah di tengah pelataran dengan balkon yang menghadap ke arah Gunung Batok-Bromo-Kursi-Semeru. Secercah sinar sudah muncul di ufuk timur, membuat rona warna jingga di awan-awan yang biru pekat. Empat gunung tersebut sudah cukup terlihat walaupun anda harus memicingkan mata untuk melihatnya. Gunakan kamera anda pada shutter yang panjang untuk menangkap pemandangan ini. Sebelumnya, anda harus berjibaku dulu menembus lautan manusia demi mendapat titik pandang yang menarik. Kalau beruntung, anda bisa mendapatkan tempat di tengah balkon. Kalau agak beruntung, anda masih bisa mendapat tempat di depan balkon walaupun di pinggir kanan atau kiri (awas, pagar pembatas di balkon kiri agak terlepas, waspadai langkah anda). Kalau nggak beruntung, anda harus berada di belakang punggung-punggung orang dan berharap orang-orang di depan balkon tersebut ada yang mundur sehingga anda bisa nyempil. Beberapa orang yang tidak mendapat posisi bagus nekad turun ke lapangan di sebelah balkon kanan tempat menara-menara BTS didirikan. Titik menara pandang ini adalah titik dimana foto-foto Bromo yang sangat terkenal tersebut diambil. 
Berdoalah agar pemandangan yang akan anda dapat bagus. Biasanya, hampir tidak ada masalah kalau anda datang pada musim kemarau. Pada musim inilah umumnya fotografer banyak mendapatkan foto-foto Bromo terbaik, terutama dengan lautan awan di kaki gunungnya. Namun, tidak ada salahnya juga mengeksplorasi keindahan Bromo pada musim penghujan. Anda akan mendapatkan nuansa berbeda dari Bromo. Hanya, kekhawatiran yang terjadi pada musim penghujan hanyalah awan dan kabut yang umumnya datang lebih cepat sehingga menutupi pandangan keseluruhan ke Bromo. Hal ini sempat terjadi beberapa kali pada kunjungan saya dan cukup efektif membubarkan kerumunan massa, ternyata! Yang perlu anda lakukan adalah menunggu (kalau anda tidak diburu-buru oleh rombongan anda) dan biarkan angin menyapu bersih kabut dan awan tersebut. Matahari mungkin saja masih belum terlalu tinggi atau sudah terlampau tinggi namun percayalah, kreatifitas anda bukan ditentukan oleh cuaca yang sempurna namun intuisi anda dalam membidik gambar. Nikmatilah detik-detik sunrise di Bromo dalam hidup anda. Jangan terlalu menghitungnya.
Setelah kerumunan massa berhasil secara efektif dibubarkan oleh matahari yang terlanjur meninggi atau kabut yang terlalu cepat datang (lebih efektif dari gas air mata ataupun water canon loch...hihihi...), inilah saatnya pedagang Edelweiss dan bebungaan gunung melakukan penjualan. Mereka datang menyebar dan di tangannya, anda bisa melihat sejumput rumput atau bebungaan gunung dalam warga polos atau yang telah diwarnai. Ukuran bebungaan tersebut sekitar bola voli kecil dan dibanderol dalam harga sekitar Rp. 30.000an. banyakjuga pembeli bebungaan tersebut untuk oleh-oleh. Namun, saya sich nggak berniat membelinya karena pasti akan merepotkan dalam urusan membawanya. Daripada repot,mendingan nggak usah dech kecuali anda akan langsung pulang ke kota asal dalam mobil carteran yang nyaman.

Kalau anda masih betah berlama-lama di balkon ini (termasuk teman-teman anda juga yach) coba dech amati papan informasi pemandangan Gunung Bromo yang ada di tengah depan pendopo persis. Di papan marmer tersebut, lukisan Gunung Bromo dan gunung-gunung lainnya digrafir di atas marmer. Ada informasi penting disini. Gunung yang ada dalam pemandangan tersebut bukan hanya 4 gunung seperti yang kita ketahui saja. Total ada 11 buah gunung dan 2 buah segara yang tampak dari balkon menara pandang ini. Gunung yang lain jarang diungkap/disebut lantaran mungkin terlalu banyak kalau disebutkan semuanya yach. Selain itu, puncak gunung-gunung yang lain memang tidak runcing atau cukup jelas berbentuk gunung sehingga sering diabaikan. Gunung-gunung tersebut mulai dari kanan adalah Gunung Jembangan, Ayek-Ayek, Widodaren, Kepolo, Watangan, Semeru, Batok, Ider-Ider, Bromo, Kursi, dan Jantur. Sementara dua buah segara yakni Segara Wedi Lor terletak diantara Gunung Bromo dan Gunung Kursi lalu Segara Wedi Wetan terletak di agak samping-belakang Gunung Widodaren dan di depan Gunung Ider-Ider. 

Inilah Puncak Penanjakan dengan ketinggian 2770 meter di atas permukaan laut. Dengan tinggi seperti ini, wajar banget rasanya pakaian hangat diperlukan walau setelah matahari terbit, rasa dingin tersebut hilang. Sekaranglah saatnya anda turun, kembali ke jeep hardtop untuk turun gunung. Sembari turun, anda akan melihat keramaian di jalur naik tadi. aneka macam toko souvenir dan toko pakaian dingin diseru wisatawan yang umumnya lokal. Oleh-oleh yang paling banyak terlihat dipajang ialah kaos dengan gambar Bromo serta syal dengan tulisan Bromo. Kalau anda berniat belanja segeralah belanja, jangan sampai teman perjalanan anda menunggu dibuatnya. Lagipula, anda masih harus ke pendakian Gunung Bromo (kecuali kalau anda nggak ambil paket ini dan memilih pulang). Sediakan waktu cukup banyak untuk trekking lautan pasir menuju Gunung Bromo.


salam dari kami : http://www.indahnesia.info
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments
Item Reviewed: Menikmati Indahnya Alam Indonesia di Puncak Gunung Penanjakan Rating: 5 Reviewed By: Awaluddin Ahmad